Igan Baswara Gandeng Karan Mahardika hingga Gogocookie dalam Penggarapan “Ikut Aku Pulang” Usai Kericuhan di Moch Toha, Cepot Motah Indonesia Borong Pecel Lele dan Bagikan Gratis kepada Warga. Cegah Penyebaran TBC, Pemdes Malakasari Gelar Penyuluhan Penyakit Menular Melalui Dana Desa Tahap II Tahun 2026 DISKOP UKMK KABUPATEN BANDUNG BERIKAN PELAYANAN PRIMA, DAMPINGI UMKM DARI LEGALITAS HINGGA NAIK KELAS Pemdes Malakasari Salurkan Bantuan Sembako untuk Lansia yang Belum Terjangkau Bansos Expo KKN UMB 2026 Bahas Peluang Produk Mahasiswa Jadi Usaha Berkelanjutan

Berita Daerah

Tumpukan Sampah di Pasar Banjaran, Alarm bagi Pengelolaan yang Mulai Melemah

badge-check


					Tumpukan Sampah di Pasar Banjaran, Alarm bagi Pengelolaan yang Mulai Melemah Perbesar

Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah sistem pengelolaan sampah di pasar masih berjalan sebagaimana mestinya, atau justru mulai mengalami kelonggaran pengawasan?

Secara regulatif, pengelolaan sampah bukan sekadar urusan teknis, melainkan kewajiban yang diatur jelas dalam peraturan perundang-undangan.
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah menegaskan bahwa pemerintah daerah bertanggung jawab menjamin terselenggaranya pengelolaan sampah yang baik dan berwawasan lingkungan.
Dalam Pasal 12, disebutkan bahwa setiap orang termasuk pelaku usaha di kawasan pasar wajib mengurangi dan menangani sampah dengan cara yang berwawasan lingkungan.

Lebih lanjut, Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga mengatur secara teknis bahwa pengelolaan sampah harus mencakup pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, hingga pemrosesan akhir. Dalam konteks pasar, hal ini berarti pengelola wajib menyediakan sistem yang memastikan sampah tidak menumpuk dan segera ditangani sesuai standar.

Di tingkat daerah, Peraturan Daerah Kabupaten Bandung tentang Pengelolaan Sampah (yang merujuk pada turunan UU 18/2008) juga umumnya menegaskan peran aktif dinas terkait serta pengelola fasilitas umum, termasuk pasar, dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Pengabaian terhadap kewajiban ini berpotensi menimbulkan konsekuensi administratif hingga sanksi.

Kondisi di Pasar Banjaran saat ini menjadi sinyal bahwa koordinasi antara pengelola pasar, petugas kebersihan, dan dinas terkait perlu dievaluasi. Persoalannya bukan semata pada volume sampah, melainkan pada konsistensi sistem yang dijalankan.
Pasar tradisional sebagai ruang publik seharusnya menjadi representasi pelayanan dasar pemerintah daerah, bukan justru titik lemah yang luput dari perhatian.

Jika tidak segera ditangani, persoalan ini berpotensi meluas bukan hanya pada aspek kebersihan, tetapi juga kepercayaan publik terhadap pengelolaan fasilitas umum.
Di titik inilah, respons cepat dan terukur dari pihak terkait menjadi penting, bukan sekadar untuk membersihkan sampah yang terlihat, tetapi untuk memastikan sistem pengelolaan kembali berjalan sebagaimana mestinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Cegah Penyebaran TBC, Pemdes Malakasari Gelar Penyuluhan Penyakit Menular Melalui Dana Desa Tahap II Tahun 2026

15 Oktober 2026 - 12:35 WIB

Pemdes Malakasari Salurkan Bantuan Sembako untuk Lansia yang Belum Terjangkau Bansos

7 Oktober 2026 - 13:16 WIB

PAC XTC Cimaung isi maulid Nabi dan santunan Anak yatim Bersama Forkopimcam dan berkolaborasi dengan Cepot Motah

31 Agustus 2026 - 19:53 WIB

1.362 KPM Malakasari Terima Bantuan Bulog, Penyaluran Dikawal Pemdes hingga Aparat

23 Agustus 2026 - 23:49 WIB

Dari Leuwidulang untuk Budaya Sunda, GPMPP Putra Layang Pusaka Pentaskan Pencak Silat di HUT RI ke-81

20 Agustus 2026 - 14:25 WIB

Trending di Berita Daerah