Aceh Barat – Di saat banyak guru dan murid berangkat ke sekolah melalui jalan beraspal dan jembatan kokoh, pemandangan berbeda justru datang dari Desa Sikundo, Kabupaten Aceh Barat.
Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan seorang guru berseragam hitam putih menggendong anaknya sambil meniti jembatan darurat berbahan tali kawat baja untuk menyeberangi sungai.
Setiap langkah yang diambil tampak begitu hati-hati.
Di bawahnya, aliran sungai mengalir deras. Kesalahan sedikit saja dapat berakibat fatal.

Video itu bukan sekadar tontonan yang mengundang rasa iba. Ia menjadi cermin bahwa di sejumlah wilayah Indonesia, masih ada guru yang harus mempertaruhkan keselamatan demi menjalankan amanah mencerdaskan generasi bangsa.
Bagi masyarakat Desa Sikundo, jembatan darurat tersebut merupakan satu-satunya akses setelah jembatan utama rusak akibat bencana beberapa waktu lalu.
Mau tidak mau, warga harus menggunakan jalur itu untuk berangkat ke sekolah, bekerja, hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Gelombang simpati pun membanjiri media sosial. Banyak warganet memuji keteguhan hati sang guru yang tetap mengajar meski harus melewati medan yang berbahaya.
Di sisi lain, muncul pula pertanyaan dari masyarakat mengenai percepatan pembangunan infrastruktur dasar di daerah tersebut.
Sejumlah komentar warganet di media sosial turut membandingkan kondisi itu dengan besarnya anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut mencapai sekitar Rp1 triliun per hari. Perbandingan tersebut merupakan aspirasi yang berkembang di ruang publik, dengan harapan agar pembangunan infrastruktur yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat juga memperoleh perhatian yang serius dan cepat.
Guru tidak pernah meminta disanjung. Mereka hanya ingin dapat berangkat mengajar dengan selamat dan pulang kembali ke keluarganya tanpa harus mempertaruhkan nyawa di atas seutas jembatan darurat.
Perjuangan guru memang layak diapresiasi.
Namun, apresiasi saja tidak cukup.
Pengabdian mereka seharusnya dibarengi dengan hadirnya fasilitas publik yang aman dan layak.
Sebab, dedikasi seorang guru tidak semestinya diuji oleh rapuhnya infrastruktur.
Video dari Desa Sikundo menjadi pengingat bahwa pemerataan pembangunan masih menjadi pekerjaan besar.
Ketika seorang guru harus menggendong anak sambil meniti tali baja untuk mengajar, sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya keberanian seorang pendidik, tetapi juga komitmen bersama dalam memastikan setiap warga negara memperoleh akses yang aman terhadap pendidikan dan layanan dasar.















