Air Mata untuk Negeri: Guru Ini Menggendong Anak Meniti Jembatan Tali Demi Mengajar Bukan Cuma Indo Bounce, DNA Tampil Beda di Album Perdana OURORA Single “Dopamine (Bukan Haluuu)” Resmi Dirilis, Kolaborasi Roni Joni, Rycko Ria, dan Naomi Ivo Haflatul Imtihan Hidayatul Ilmi, Momentum Menguatkan Pendidikan dan Pembangunan Umat Roni Joni, Rycko Ria, dan Naomi Ivo Siap Hadirkan Kejutan Lewat “Dopamine (Bukan Haluuu)” Indomaret Fun Bike Bandung 2026 Sukses Digelar, Ribuan Peserta Padati Kiara Artha Park

Kesehatan

Studi Ungkap Olahraga dan Terapi Psikologis Efektif Pulihkan Sindrom Patah Hati

Perbesar

Ilustrasi -- Pemeriksaan kesehatan jantung/Pexels

TOPIK MEDIA, JAKARTA Studi terbaru menunjukkan bahwa terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy/CBT) dan program olahraga teratur dapat membantu pasien sindrom patah hati atau kardiomiopati takotsubo dalam memulihkan fungsi jantung.

Kardiomiopati takotsubo, yang juga dikenal sebagai sindrom patah hati, merupakan kondisi saat otot jantung melemah mendadak akibat stres emosional maupun fisik, misalnya kehilangan orang tercinta. Kondisi ini kerap menimbulkan gejala mirip serangan jantung dan berisiko meningkatkan kematian dini hingga dua kali lipat dibanding populasi umum.

Dalam penelitian yang dipresentasikan pada Kongres Tahunan European Society of Cardiology di Madrid, 76 pasien sindrom patah hati dilibatkan, mayoritas perempuan dengan rata-rata usia 66 tahun. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok, yakni penerima perawatan standar, peserta program CBT, dan peserta program olahraga.

Hasil penelitian menunjukkan, kelompok CBT dan olahraga mengalami peningkatan signifikan pada ketersediaan energi jantung, jarak tempuh jalan enam menit, serta konsumsi oksigen maksimum (VO2 max). Pasien CBT, misalnya, meningkat dari 402 meter menjadi 458 meter, sementara kelompok olahraga mampu mencapai rata-rata 528 meter.

“Menariknya, tak hanya olahraga, terapi perilaku kognitif juga terbukti dapat meningkatkan fungsi jantung serta kebugaran pasien,” kata Dr. Sonya Babu-Narayan, Direktur Klinis British Heart Foundation.

Meski sindrom patah hati belum memiliki obat, temuan ini memberi harapan baru untuk mengurangi gejala sekaligus menurunkan risiko kematian. Peneliti menekankan perlunya kajian lanjutan guna memastikan manfaat jangka panjang dari kedua metode tersebut.

(Red/ANTARA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ahli Epidemiologi Ingatkan Bahaya Narasi Anti Vaksin, Edukasi Jadi Kunci Lindungi Anak

6 April 2026 - 21:39 WIB

Ahli Neurologi Bagikan Kebiasaan Harian untuk Menjaga Kesehatan Otak dan Mental

7 Januari 2026 - 13:55 WIB

Cegah Flu dan ISPA, Pakar PDPI Ingatkan Pentingnya Vaksinasi dan Pola Hidup CERDIK

22 Oktober 2025 - 11:01 WIB

Dokter Anak: Pola Makan Sehat Harus Dibiasakan Sejak Dini dengan Konsistensi Orang Tua

22 Agustus 2025 - 22:15 WIB

Waspadai Demam Berdarah hingga Infeksi Jamur, Ini Tips Aman Hadapi Musim Hujan

21 Agustus 2025 - 17:21 WIB

Trending di Kesehatan
Exit mobile version