Air Mata untuk Negeri: Guru Ini Menggendong Anak Meniti Jembatan Tali Demi Mengajar Bukan Cuma Indo Bounce, DNA Tampil Beda di Album Perdana OURORA Single “Dopamine (Bukan Haluuu)” Resmi Dirilis, Kolaborasi Roni Joni, Rycko Ria, dan Naomi Ivo Haflatul Imtihan Hidayatul Ilmi, Momentum Menguatkan Pendidikan dan Pembangunan Umat Roni Joni, Rycko Ria, dan Naomi Ivo Siap Hadirkan Kejutan Lewat “Dopamine (Bukan Haluuu)” Indomaret Fun Bike Bandung 2026 Sukses Digelar, Ribuan Peserta Padati Kiara Artha Park

Artikel

Kerajaan, NKRI dan Sistem Administrasi Publik Indonesia: Refleksi Perjalanan Ternate dan Tidore

badge-check


					Rd Ahmad Buchari, Dosen Administrasi Publik FISIP Universitas Padjadjaran & Wakil Ketua Bidang Pengembangan Wilayah dan Kelembagaan DPP IAPA. Perbesar

Rd Ahmad Buchari, Dosen Administrasi Publik FISIP Universitas Padjadjaran & Wakil Ketua Bidang Pengembangan Wilayah dan Kelembagaan DPP IAPA.

Refleksinya bagi administrasi publik modern adalah pentingnya integrasi nilai-nilai lokal dalam birokrasi nasional. Modernisasi tidak boleh memutus kesinambungan dengan kearifan tradisional, melainkan justru memperkaya praktik tata kelola publik.

Meski kerajaan memiliki nilai historis dan kultural, tantangan muncul ketika harus disinergikan dengan tata kelola modern yang menuntut keseragaman administrasi. Negara hadir dengan regulasi, sementara kerajaan hidup dalam tradisi dan adat.

Namun, pengalaman Tidore menunjukkan bahwa transformasi ini bisa berjalan beriringan. Sultan menjadi simbol adat, sekaligus duta budaya dan mitra dalam pembangunan daerah. Dengan demikian, konsep administrasi publik inklusif yang memberi ruang bagi adat dan tradisi kerajaan menjadi sangat penting.

Refleksi dari Perjalanan ke Maluku Utara

Perjalanan saya ke Ternate dan Tidore memberikan setidaknya tiga refleksi penting:

1. Sejarah sebagai Fondasi. Perjuangan membangun Indonesia tidak berdiri di ruang hampa. Ia ditopang oleh warisan kerajaan yang sudah berabad-abad mengelola masyarakat dan berinteraksi dengan dunia internasional. Administrasi publik modern sebaiknya tidak melupakan akar sejarah ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dari Kanvas hingga Video, Putu PW Winata Hadirkan “Suara Alam Pagi Jatiluwih”

30 September 2025 - 20:03 WIB

Polemik Jalur Domisili Khusus, Antara Pemerataan Akses dan Ancaman untuk Sekolah Swasta

26 Juni 2025 - 13:52 WIB

7 Camilan Sehat Kaya Nutrisi Penambah Daya Otak

24 Juni 2025 - 11:38 WIB

Hallo Gojek, InDriver, Maxim, Angkot Ambil peluang ini!

8 Juni 2025 - 09:00 WIB

Menjaga Cahaya di Malam Hari, Narasi Indah tentang Aturan Jam Malam Pelajar di Jawa Barat

7 Juni 2025 - 09:00 WIB

Trending di Artikel