Igan Baswara Gandeng Karan Mahardika hingga Gogocookie dalam Penggarapan “Ikut Aku Pulang” Usai Kericuhan di Moch Toha, Cepot Motah Indonesia Borong Pecel Lele dan Bagikan Gratis kepada Warga. Cegah Penyebaran TBC, Pemdes Malakasari Gelar Penyuluhan Penyakit Menular Melalui Dana Desa Tahap II Tahun 2026 DISKOP UKMK KABUPATEN BANDUNG BERIKAN PELAYANAN PRIMA, DAMPINGI UMKM DARI LEGALITAS HINGGA NAIK KELAS Pemdes Malakasari Salurkan Bantuan Sembako untuk Lansia yang Belum Terjangkau Bansos Expo KKN UMB 2026 Bahas Peluang Produk Mahasiswa Jadi Usaha Berkelanjutan

Artikel

Pakar Peringatkan Bahaya Pengawet Makanan: Dari Gangguan Pencernaan hingga Risiko Kanker

badge-check


					Ilustrasi makanan yang diawetkan dalam kaleng dan kemasan/pexels Perbesar

Ilustrasi makanan yang diawetkan dalam kaleng dan kemasan/pexels

TOPIK MEDIA – Penggunaan bahan pengawet dalam makanan memang dapat memperpanjang umur simpan dan menjaga kualitas produk. Namun, konsumsi berlebihan atau jangka panjang terhadap makanan yang mengandung bahan pengawet sintetis dinilai dapat berdampak buruk bagi kesehatan.

Menurut sejumlah pakar kesehatan, beberapa jenis pengawet makanan yang umum digunakan di industri pangan, seperti natrium benzoat, asam sorbat, dan BHA (butylated hydroxyanisole), dapat menimbulkan efek samping jika dikonsumsi secara terus-menerus.

1. Risiko Gangguan Pencernaan
Pengawet sintetis tertentu diketahui dapat memicu iritasi pada saluran pencernaan. Gejala seperti mual, diare, dan nyeri perut dapat dialami oleh individu yang sensitif terhadap bahan kimia tertentu.

2. Alergi dan Reaksi Hipersensitivitas
Beberapa orang mengalami reaksi alergi setelah mengonsumsi makanan berpengawet. Gejala yang muncul bisa berupa gatal-gatal, ruam kulit, hingga sesak napas. Anak-anak juga lebih rentan terhadap efek samping ini.

3. Gangguan Hormon dan Potensi Karsinogenik
Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa bahan pengawet seperti BHA dan BHT (butylated hydroxytoluene) berpotensi mengganggu keseimbangan hormon dan bahkan dikaitkan dengan risiko kanker, meskipun masih membutuhkan studi lebih lanjut untuk kepastian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

RAKERCAB I XTC DPC Kabupaten Bandung Digelar, Konsolidasi dan Evaluasi Jadi Momentum Penguatan Organisasi

21 September 2026 - 20:06 WIB

Dari Kanvas hingga Video, Putu PW Winata Hadirkan “Suara Alam Pagi Jatiluwih”

30 September 2025 - 20:03 WIB

Kerajaan, NKRI dan Sistem Administrasi Publik Indonesia: Refleksi Perjalanan Ternate dan Tidore

22 September 2025 - 13:03 WIB

Polemik Jalur Domisili Khusus, Antara Pemerataan Akses dan Ancaman untuk Sekolah Swasta

26 Juni 2025 - 13:52 WIB

7 Camilan Sehat Kaya Nutrisi Penambah Daya Otak

24 Juni 2025 - 11:38 WIB

Trending di Artikel