GPM-CD Bongkar Dugaan Carut-Marut Tirtawening: Rangkap Jabatan, Gaji Rp140 Juta, hingga Aset Meter Air Hilang Dilepas dengan Doa, 40 Atlet Vamos Baleendah Siap Berlaga di UGM Tae Kwon Do Championship 2026 PAC XTC Cimaung isi maulid Nabi dan santunan Anak yatim Bersama Forkopimcam dan berkolaborasi dengan Cepot Motah Polda Jabar dan Driver Online Bandung Raya Perkuat Sinergi Lewat Bakti Sosial 1.362 KPM Malakasari Terima Bantuan Bulog, Penyaluran Dikawal Pemdes hingga Aparat Khidmat di Tengah Alam, XTC Kabupaten Bandung Peringati HUT RI ke-81 di Gunung Puntang

Artikel

Dari ‘Atuda…’ Menjadi ‘Sanajan…’ Transformasi Semangat Warga Jawa Barat Mencari Solusi

badge-check


					Agus Nugroho, Penyuka pagi dan Jalan kaki Perbesar

Agus Nugroho, Penyuka pagi dan Jalan kaki

Oleh: Agus Nugroho
Penyuka pagi dan Jalan kaki

TOPIK MEDIABerawal dari pidato penyemangat Pak Sekda Jabar Pak Herman Suryatman, yang memotivasi seluruh ASN Jabar, saya tergelitik untuk menguraikannya secara lebih dalam tentang judul diatas.

Di berbagai sudut kampung, kota, dan lembur di Jawa Barat, sering kali terdengar ungkapan yang terasa sangat akrab di telinga: “Atuda…”– sebuah kata yang mencerminkan alasan, keraguan, atau bahkan ketidakberdayaan. “Atuda can siap…”, “Atuda loba tangtangan…”, atau “Atuda moal bisa…”* adalah contoh frasa yang sering meluncur secara spontan saat seseorang menghadapi kesulitan. Meskipun terasa wajar, jika terus-menerus dijadikan pembuka kalimat, ungkapan ini bisa menjadi penghalang besar bagi perubahan positif.

Kebiasaan memulai segala hal dengan alasan bisa menjadi semacam jebakan mental yang membuat kita diam di tempat. Tanpa disadari, pola pikir ini tumbuh dalam kehidupan sehari-hari, dalam percakapan keluarga, diskusi masyarakat, bahkan dalam ruang pembelajaran dan pemerintahan. Bila dibiarkan, budaya ini bisa mengendap menjadi mentalitas “alus dina omong, hésé dina lampah,” yaitu piawai dalam beralasan namun enggan bergerak menghadapi kenyataan.

Namun, warga Jawa Barat memiliki kekuatan tersendiri yang tidak bisa diremehkan: daya tahan dan nilai-nilai kearifan lokal yang penuh dengan kesabaran, gotong royong, dan tekad baja. Dalam semangat itu, muncul gerakan perubahan mental yang kini mulai digaungkan: mengganti kata “Atuda…” dengan “Sanajan…”. Sebuah pergeseran sederhana dalam berbahasa, tapi besar dalam dampaknya pada pola pikir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dari Kanvas hingga Video, Putu PW Winata Hadirkan “Suara Alam Pagi Jatiluwih”

30 September 2025 - 20:03 WIB

Kerajaan, NKRI dan Sistem Administrasi Publik Indonesia: Refleksi Perjalanan Ternate dan Tidore

22 September 2025 - 13:03 WIB

Polemik Jalur Domisili Khusus, Antara Pemerataan Akses dan Ancaman untuk Sekolah Swasta

26 Juni 2025 - 13:52 WIB

7 Camilan Sehat Kaya Nutrisi Penambah Daya Otak

24 Juni 2025 - 11:38 WIB

Hallo Gojek, InDriver, Maxim, Angkot Ambil peluang ini!

8 Juni 2025 - 09:00 WIB

Trending di Artikel