GPM-CD Bongkar Dugaan Carut-Marut Tirtawening: Rangkap Jabatan, Gaji Rp140 Juta, hingga Aset Meter Air Hilang Dilepas dengan Doa, 40 Atlet Vamos Baleendah Siap Berlaga di UGM Tae Kwon Do Championship 2026 PAC XTC Cimaung isi maulid Nabi dan santunan Anak yatim Bersama Forkopimcam dan berkolaborasi dengan Cepot Motah Polda Jabar dan Driver Online Bandung Raya Perkuat Sinergi Lewat Bakti Sosial 1.362 KPM Malakasari Terima Bantuan Bulog, Penyaluran Dikawal Pemdes hingga Aparat Khidmat di Tengah Alam, XTC Kabupaten Bandung Peringati HUT RI ke-81 di Gunung Puntang

Teknologi

AI di Kursi Terdakwa: Saat Teknologi Disalahkan, Manusia Terlewatkan

Perbesar

Rekayasa gambar buatan AI/Pexels

TOPIK MEDIA, JAKARTA – Gelombang gugatan terhadap kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di berbagai negara menunjukkan pola yang semakin menguat: ketika ruang digital menimbulkan luka, teknologi kerap menjadi pihak pertama yang dituding. AI diposisikan sebagai sumber masalah, sementara peran manusia sebagai pengguna sering kali luput dari sorotan.

Dalam konteks ketimpangan literasi digital dan meningkatnya risiko terhadap kelompok rentan, negara-negara mulai mengambil sikap. Namun, pendekatan yang ditempuh bukan semata menghakimi mesin, melainkan membangun pagar kebijakan agar AI tidak beroperasi di ruang tanpa kendali dan tanggung jawab.

Dalam beberapa bulan terakhir, AI lebih sering muncul dalam pemberitaan sebagai “terdakwa” ketimbang inovasi. ChatGPT digugat karena dituding memberikan panduan bunuh diri, sementara Grok—produk AI milik Elon Musk—menuai kecaman global karena memungkinkan pembuatan gambar pornografi, termasuk konten non-konsensual yang melibatkan anak-anak dan figur publik. Dalam situasi tersebut, AI kerap disebut sebagai penyebab utama ketika ruang digital berubah menjadi ruang luka.

Bahasa yang digunakan dalam pemberitaan dan pernyataan hukum turut membentuk persepsi. AI digambarkan seolah-olah “memberi”, “mengajarkan”, dan “menghasilkan” secara aktif. Perlahan, mesin ditempatkan sebagai subjek yang memiliki kehendak dan niat, sehingga dianggap layak dimintai pertanggungjawaban.

Padahal, terdapat fakta mendasar yang kerap terlewat: tidak ada satu pun keluaran AI yang lahir tanpa permintaan manusia. Tidak ada teks, gambar, atau respons yang muncul tanpa input. AI tidak memulai percakapan, tidak mengajukan ide, dan tidak memiliki dorongan moral. Ia hanya merespons instruksi yang diberikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

CSA Indonesia Gandeng Q-SYS dan Shure, Hadirkan Experience Center Teknologi Pertama di Indonesia

16 April 2026 - 17:58 WIB

Oppo Pad 5 Matte Display Edition Meluncur, Usung Layar Anti-Silau dan Fitur AI

6 Februari 2026 - 12:51 WIB

OnePlus 16 Dirumorkan Rilis 2026, Usung Spesifikasi Flagship Ekstrem

2 Februari 2026 - 12:50 WIB

Penjualan iPhone Pecahkan Rekor, Pendapatan Apple Melonjak

31 Januari 2026 - 18:15 WIB

Honor Dikabarkan Kembangkan Ponsel Lipat Rasio 4:3, Desain Layar Lebih Lebar

29 Januari 2026 - 13:14 WIB

Trending di Teknologi
Exit mobile version